About


Get this widget:

Jumat, 11 November 2016

Bangga Tidak Telat

Bangga Tidak Telat
Oleh: Must Hamid
keterlambatan merupakan suatu kebiasaan yang seolah-olah dianggap kewajiban. Kenapa? Karena dimanapun pasti banyak sekali orang terlambat. Tidak bisa on time. Instansi sekolah, perusahaan, kampus, bahkan warung pun, sering terjadi terlambat. Kalau tidak terlambat, mungkin bagi mereka, kurang mengagumkan, kalau terlambat berarti bisa melebihi direktornya. Mindset yanag keliru!

Bahkan yang lebih ironis dan tidak etis ketika ada orang yang rajin, selalu tepat waktu, memiliki etos kerja tinggi malah dibilang “sok”; sok rajin, sok disiplin, sok alim, atau sok-sok yang lain. Kebanyakan dari kita, dalam hati kita, menaruh kebencian kepada mereka yang rajin dan tepat waktu. Seharusnya kita merasa bangga memiliki orang-orang tersebut. Ada contoh riil untuk kita berbuat lebih baik lagi. Harusnya kita bangga menjadi orang yang pertama dalam melakukan kebaikan, bekerja untuk mencari rizki.

Kita seyogyanya mencari alasan kenapa dalam hati kita ada rasa benci kepada mereka. Ada penyakit apa dalam sanubari? Makanya Islam mengajarkan untuk senantiasa muhasabah diri. Kita koreksi diri kita. Kita bandingkan perbuatan baik dan buruk yang telah dilakukan. Lebih banyak mana,, kebaikan kah? Atau kebusukan yang lebih mendominasi?

Instropeksi diri merupakan hal penting bagi manusia, mengingat manusia tidak pernah luput dari berbuat salah dan lalai. Sehingga manusia akan memiliki karakter “satu langkah lebih maju” setiap hari. Fastabiqul khoirat, berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan. Ayat tersebut juga mengidentifikasikan bahwa sebetulnya seorang muslim harus memiliki etos kerja, etos berkarya yang tinggi. Dengan kata yang lebih sederhana, orang yang sering telat karena menyepelekan pekerjaan berarti beretos kerja rendah.

Budaya telat selain dikarenakan faktor etos kerja yang rendah, juga disebabkan adanya mindset yang menyepelekan. “Paling acaranya juga molor, ngapain berangkat duluan”, kata-kata tersebut sering keluar dari mulut tanpa disadari, tanpa merasa bersalah. Maksiat jika dilakukan pertama kali memang akan terasa maksiat, tapi jika sering dilakukan maka akan terasa “maksiyut”, dianggap hal biasa.


 Oleh karena itu, semua orang harus sadar betul tentang sikap tepat waktu. Semua komponennya, baik ketua, wakil ketua, bendahara, peserta ataupun dalam hal lain. Misalkan ada acara diskusi kelompok untuk menyelesaikan tugas mata kuliah. Sepakat jam 09.00 WIB kumpul di perpustakaan. Tentunya semua komponen acara diskusi tersebut bisa on time, baik ketua kelompok maupun anggotanya. Sehingga mindser acara molor itu bisa diminimalisir. Selain dengan cara persuatif penyadaran akan pentingnya tepat waktu, manajemen waktu.

terima kasih sudah membaca!
jangan lupa baca juga:

0 komentar:

Posting Komentar