About


Get this widget:

Rabu, 27 Desember 2017

SENDOK TENGKURAP DI TENGAH HUJAN MALAM

Langkah kakiku menyusuri sepi di pertigaan jalan manggis
Berbincang dengan seorang teman dari ujung timur
Tapi telingaku sudah gulung tikar di perjudian malam – kantuk
Hingga pada akhirnya aku terangguk-angguk
Mengiyakan gerimis hujan yang merayu
Kelalailan kilat mencondongkan aku
Pada aroma suara nasi goring
Namun hidungku sudah tuli untuk menyuarakan angan



Terakhir
Aku pulang kembali melangkahkan kaki menuju jelaga malam
Masuk merasuk ke dalam gerbang hijau depan garasi
Membopongku naik kepada nagwat imajinasi
Memelototi aku sebagai zombie: otakku masih berdenyut
Tapi hatiku mengkerut maut
Satu hal yang aku cari disetiap langkah
Aku ingin meresap menjadi ruhnya
Tapi aku belum pingsan merasakan puncak nikmatnya
Sampai aku duduk sembari berkacak pinggang
Di belakang bersama tempat sampah – sebagai calo antara aku dan imajinasi
Mata ini tanpa sengaja melihat sebuah cendok
Tengkurap di atas piring dengan sedikit noda
Mempertajam nuansa betapa malas buto ijo-nya
Seolah mengadu kepadaku tentang tanggung jawab yang jawabannya tanggung
Bukan tentang adab selesai makan: cendok tidak boleh dihadapkan ke atas
Kata mereka – kakek nenek


                                                                                    27 Desember 2017

terima kasih sudah membacanya. semoga bermanfaat bagi para pembaca.
jangan lupa atau sungkan untuk komen. okey

baca juga ya:

0 komentar:

Posting Komentar